I should also research if there are any cultural nuances in Indonesian literature that need to be considered. Names like Natsuya might be a mix of Japanese and Indonesian, so clarifying that would help. Ensuring that the story is respectful and does not perpetuate stereotypes or inappropriate content is essential.
"Kita seperti kue yang dipanggang berbarengan—rasanya tidak dapat dipisahkan," kata Natsuya. I should also research if there are any
Saat Kaisan pulang, ia menyimpan sesuatu yang istimewa untuk Natsuya: kalung dengan kue kecil dari perak sebagai simbol kebahagiaan bersama. Waktu pun berputar. Kaisan harus kembali ke kota besar untuk melanjutkan program magangnya. Di pelabuhan, Natsuya menebarkan kue-kue lezat sambil menunggu. Saat terakhir mereka tercipta dalam suasana haru, dengan janji untuk berjumpa lagi. " kata Natsuya. Saat Kaisan pulang